
Cirebon Bidik 68 Persen Tenaga Kerja Muda Sebagai Kreator Digital
Pemerintah Kota Cirebon mencanangkan target 68 persen populasi usia produktif mereka beralih menjadi kreator digital. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi ekonomi digital kota tersebut untuk menjawab tantangan ketimpangan kompetensi di era transformasi digital.
Kota Cirebon terus menggenjot literasi digital di kalangan generasi mudanya. Barusan, pemerintah kota resmi melancarkan program yang menyasar ratusan ribu warga usia produktif untuk mencintai pembuatan konten digital. Target ambisius itu yakni 68 persen dari total populasi usia kerja di kota tersebut harus mampu menghasilkan konten di berbagai platform digital. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap minimnya kompetensi digital di kalangan tenaga kerja lokal yang selama ini bergantung pada sektor konvensional. Program pelatihan dan pendampingan menjadi pilar utama dalam реализации visi ini. Pemerintah kota menyediakan fasilitas pelatihan, akses teknologi, serta jaringan mentorship dari praktisi digital yang sudahmalanjutkan. Sosialisasi masif bakal menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelajar hingga pekerja informal. target ini diproyeksikan tercapai dalam waktu lima tahun ke depan, dengan indikator keberhasilan berupa naiknya kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Regional Bruto (GRP) Cirebon.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Target Populasi | 68% usia produktif |
| Durasi Program | Lima tahun |
| Fokus Pelatihan | Literasi dan produksi konten digital |
| Indikator Keberhasilan | Kontribusi ekonomi digital terhadap PDRB |
Upaya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelaku industri kreatif dan institusi pendidikan. Sinergi antarpemangku kepentingan dianggap krusial untuk memastikan keberlanjutan program dan transfer pengetahuan yang merata. Selain aspek teknis, pemerintah kota juga menekankan pentingnya etika dan kreativitas dalam berkarya di ranah digital. Mereka berharap lahirnya kreator-kreator muda yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga mampu membawa pesan positif melalui karya mereka.
Kreator Digital sebagai Konsep: Bukan Sekadar Pengguna Media Sosial
Istilah kreator digital dalam konteks program semacam ini perlu dipahami secara luas. Kreator digital pada dasarnya adalah orang yang berpindah peran dari sekadar konsumen konten menjadi produsen konten, yaitu orang yang membuat dan menyebarkan karya di platform digital. Spektrumnya sendiri sangat lebar, mencakup penulisan, video, audio, desain visual, hingga pengembangan produk digital lainnya. Pemahaman definisi ini penting karena ambang batas untuk disebut "kreator" bisa berbeda antara satu program dengan program lainnya. Bagi pemerintah daerah, mendorong warga menjadi kreator digital lazim dipandang sebagai strategi pengembangan ekonomi berbasis keterampilan. Alasannya, kegiatan produksi konten berpotensi membuka jalur penghasilan baru tanpa memerlukan modal fisik besar, sekaligus membantu pelaku usaha lokal memasarkan produknya secara lebih luas. Dalam konteks kota yang sebagian tenaga kerjanya masih bergantung pada sektor konvensional, arah kebijakan semacam ini biasanya dimaksudkan sebagai jembatan menuju ekonomi yang lebih berbasis keterampilan digital. Meski demikian, pembaca perlu membedakan antara antusiasme terhadap tren dan kesiapan struktural. Menjadi kreator digital menuntut kestabilan akses internet, perangkat yang memadai, waktu belajar, dan pemahaman pasar. Tanpa fondasi tersebut, dorongan untuk berkarya bisa berhenti di tahap pelatihan semata. Karena itu, keberhasilan visi seperti ini bukan hanya soal jumlah orang yang mengikuti program, melainkan seberapa banyak yang benar-benar melanjutkan berkarya secara berkelanjutan.
Hal yang Perlu Dicek Pembaca Sebelum Menilai Target Ini
Pertanyaan pertama yang layak diajukan adalah bagaimana "kreator digital" diukur. Apakah seseorang yang pernah mengunggah satu konten sudah terhitung, atau harus ada indikator keterampilan dan aktivitas berkelanjutan? Definisi operasional seperti ini menentukan apakah angka capaian nanti mencerminkan kemampuan nyata atau sekadar keikutsertaan dalam kegiatan pelatihan. Pertanyaan kedua menyangkut mekanisme pengukuran dampak. Jika keberhasilan program dinilai dari kontribusi ekonomi digital terhadap PDRB, pembaca perlu tahu bagaimana aktivitas kreator individual akan terdata dan terhitung dalam statistik regional. Banyak pekerjaan berbasis konten berlangsung di sektor informal dan lintas wilayah, sehingga penelusuran dampaknya ke indikator ekonomi daerah memerlukan metode yang dijelaskan secara terbuka. Terakhir, perhatikan keberlanjutan program setelah masa pelatihan berakhir. Beberapa hal yang bisa dipantau: apakah pendampingan mentor berlanjut hingga peserta menghasilkan karya, apakah pelaku industri kreatif dan institusi pendidikan yang terlibat memiliki peran jangka panjang, dan apakah peserta dari kalangan pekerja informal benar-benar terjangkau sosialisasi. Dengan menelusuri pertanyaan-pertanyaan ini dari rilis resmi dan laporan tindak lanjut, pembaca dapat menilai sendiri sejauh mana target ambisius tersebut bergerak dari wacana menjadi keterampilan yang benar-benar dimiliki warga.
Sumber: RRI.co.id (rri.co.id)
